Written by : Abeng Pangestu - Describe about you

Terima Kasih Telah berkunjung dan membaca tulisan kami, semoga ada manfaat buat teman - teman sekalian, jangan lupa apabila mencopy tulisan saya mohon kasih sumbernya,,, berbagi itu indah kawan, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian, dengan kalian memberikan koment tentunya penghargaan tertinggi buat saya sebagai penggiat...... "Tau dan Mengerti arti Hidup dan Kehidupan".

Join Me On: Facebook | Twitter | Google Plus :: Thank you for visiting ! ::

Home » » HAKEKAT BELAJAR IPA

HAKEKAT BELAJAR IPA

Written By abeng on Thursday, February 21, 2013 | 7:13 PM

mas template
A.               PENGANTAR
Dalam memahami bagaimana belajar IPA yang diharapkan terjadi pada siswa di lingungan sekolah Anda, ada baiknya Anda terlebih dahulu memahami belajar IPA dalam paradigma absolutisme dan konstruksivisme yang sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan pembelajaran IPA.
Dalam paradigma absolutisme, belajar didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang mencerminkan dari keadaan belum tahu ke keadaan sudah tahu. Contoh pada Pembelajaran IPA, siswa yang belajar tinggal datang ke sekolah, duduk manis, menyimak, mendengarkan, mencatat, dan mengulang kembali di rumah serta menghapalkannya untuk menghadapi tes hasil belajar
atau ulangan
.
Demikian pula dengan materi bahan ajar telah disusun oleh para ahli, baik ahli IPA maupun ahli pendidikan IPA. Oleh karena itu, materi yang disampaikan dalam proses pembelajaran tidak dapat dipertanyakan. Seperti itulah yang harus dipelajari. Proses pembelajaranya berbentuk alih pengetahuan. Para guru berfungsi sebagai agen alih pengetahuan.
Dengan menganut teoritabula rasa, siswa dianggap kertas putih yang siap ditulisi oleh para guru apapun isi dan betuknya. Evaluasi hasil belajar dalam paradigma ini adalah reproduksi pengetahuan, seberapa banyak siswa menguasai pengetahuan yang telah diberikan. Pembelajaran IPA dengan paradigma absolutisme adalah ibarat mengisi botol kosong.
Apakah belajar dalam paradigma absolutime dengan belajar dalam paradigma konstruktivime sama ? Tentu saja berbeda, dalam paradigm konstruktivisme, siswa diakui telah memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki sebelum mengikuti proses kegiatan pembelajaran juga menentukan bangunan pengetahuan yang baru dikonstruksi bersama dengan guru. Proses belajar siswa mirip dengan yang dilakukan para ilmuwan IPA, yaitu melalui pengamatan dan percobaan.Oleh karena itu, pembelajaran IPA dengan paradigma konstruktivime tidak tepat lagi penggunaan istilah “ ibarat mengisi botol kosong.”
Untuk lebih jelasnya marilah kita cermati belajar dengan mempergunakanparagdima absolutisme dan paradigma konstrukstivime, dengan harapan andaakan menarik sebuah pemahaman, dan menjadi bekal pengetahuan Anda ketikaakan melaksanakan pembelajaran IPA di Sekoloah Dasar ( SD ) Coba andacermati dengan seksama !

B. URAIAN MATERI
v  Belajar IPA Dalam Paradigma Absolutisme
Ketika Anda sedang membaca buku, orang mengatakan bahwa Andasedang belajar. Apa yang terjadi pada saat Anda belajar ? Jawabannya dapatbermacam-macam. Apakah ada perubahan pada diri Anda antara sebelum belajardan setelah belajar?” Anda akan menjawab bahwa pengetahuan Anda berubah,bertambah. Pengetahuan Anda tentang pembelajaran IPA semakin bertambah.Apa dampak dari pertambahan pengetahuan? Apakah Anda mengalamiperubahan jika Anda menyadari bahwa pengetahuan Anda bertambah?Sesungguhnya, belajar tidak hanya memperoleh pengetahuan, Anda juga dapatmemperoleh pengalaman. Setelah belajar Anda mengalami perubahan tingkahlaku yang relatif permanen. Perubahan ini tercermin pada tingkah laku Anda.
Dalam paradigma absolutisme, belajar didefinisikan sebagai perubahantingkah laku yang mencerminkan dari keadaan belum tahu ke keadaan sudahtahu. Mari ambil contoh pada Pembelajaran IPA. Para siswa akan belajar tentangthermometer sebagai alat pengukur temperatur. Tingkah laku yang bagaimanayang mencerminkan bahwa siswa sebelum memiliki pengetahuan tentangtermometer. Ada banyak hal yang dapat menjadi indikator. Misalnya, melihattermometer terletak diatas meja, siswa tesebut acuh saja. Atau, mungkinsebaliknya, siswa terheran-heran, berdesakkan ingin melihat dan memegangibenda itu. Setelah itu, mereka mengikuti pembelajaran selama dua kalipertemuan tentang panas, para siswa sudah tidak terheran-heran ketika melihatthermometer karena mereka tahu thermometer sebagai alat pegukur suhu tubuh.Ketika mendangar perkataan orang bahwa hari ini sangat panas, siswa langsungbertanya: “ Berapa derajat, suhu hari ini ? ” Hal-hal seperti itu menunjukkantingkah laku siswa yang telah memiliki pengetahuan tentang termometer. Jadi,setelah proses pembelajaran tentang Termometer, tingkah laku para siswa telahberubah. Dengan pembelajaran, tingkah laku siswa diubah. Bentuk perubahandan rancangan pembelajarannya disusun oleh para ahli dalam bentuk kurikulum.
Dalam paradigma absolutisme, kurikulum pendidikan IPA dibuat secarasentralistik (di tingkat pusat). Pada kurikulum 1975 dan 1994, misalnya, Andaakan temukan rumusan-rumusan: tujuan kurikuler, tujuan instruksional, pokokbahasan, sub pokokbahasan, kelas, semester, sumber bahan, dan bahan ajaran.Anda, sebagai guru tinggal menetapkan tujuan khusus dan membuat recanakegiatan selama di depan kelas serta mengajarkannya dan dilengkapi dengan
sumber berupa buku paket.
Siswa yang belajar tinggal datang ke sekolah, duduk manis, menyimak,mendengarkan, mencatat, dan mengulang kembali di rumah sertamenghapalkannya untuk menghadapi tes hasil belajar atau ulangan. Tes hasilbelajar, ulangan, ujian bersifat reproduksi pengetahuan artinya seberapa luas dandalam bahan/materi yang telah diajarkan dan dikuasai siswa. Sebagian dari Anda,tentu telah mengalami pembelajaran yang seperti ini baik di tingkat sekolahdasar, sekolah lanjutan atau bahkan di tingkat perguruan tinggi.
Cara belajar pada paradigma absolutisme seperti ini hampir tidakmemberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan pendapatnya sendiri dan siswaterkesan lebih pasif. Semua kegiatan terpusat pada guru. Siswa akan menirukanpenjelasan yang diberikan guru di depan kelas. Hanya ada satu penjelasan yangdianggap benar yaitu penjelasan yang diberikan guru.
Dalam evaluasi hasilbelajar juga hanya ada satu jawaban yang dinyatakan benar yaitu jawaban yangsesuai dengan penjelasan guru. Karena itu, siswa akan selalu berusaha untukmenyesuaikan pendapatnya dengan pendapat gurunya, walaupun sesungguhnyatidak sepakat. Dengan cara seperti itulah siswa dapat memperoleh nilai tinggi.Sebaliknya, bisa juga terjadi jika bagi siswa yang bersikeras untuk mengajukankonstruksinya sendiri yang berbeda dengan apa yang telah disampaikan guru,walaupun argumentasinya bagus tetap akan memperoleh nilai rendah.

C. LATIHAN 1
1. Carilah ciri-ciri utama belajar dalam paradigma absolutisme!
Petunjuk jawaban latihan :
1.      belajar dipahami sebagai perubahan tingkah laku
2.      belajar berarti menerima sesuai dengan yang disampakan oleh para guruatau dari buku paket
3.      belajar lebih terarah kepada menerima dan menghafal
4.      hanya ada satu kebenaran, yaitu apa yang dibenarkan oleh guru.

v  Belajar IPA dalam Paradigma Konstruktivisme
Dalam paradigma absolutisme, siswa dianggap tidak memilikipengetahuan apa pun ketika berada di awal proses pembelajaran. Ibarat sebuahbotol kosong. Sebaliknya, dalam paradigma konstruktivisme, siswa diakui telahmemiliki pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki sebelum mengikuti proseskegiatan pembelajaran yang sesungguhnya merupakan pengetahun awal siswa.
Pengetahuan awal ini diperolehnya dari sumber-sumber belajar yang tersedia diluar bangku sekolah atau dari pembelajaran sebelumnya. Seperti juga Anda saatini, Anda telah memiliki pengetahuan pembelajaran IPA. Pengetahuan itu Andaperoleh dari berbagai sumber, termasuk ketika Anda kuliah di program yang lain.Pendek kata, Anda tidak berawal sebagai botol kosong. Anda telah memilikikonsepsi awal tentang pembelajaran IPA.
Konsepsi yang berakar pada pengalaman pribadi siswa dapat dikatakansebagai endapan dari pergaulan sehari-hari termasuk pengajaran sebelumnya.Konsepsi yang dibangun siswa sebelum mengikuti pembelajaran dapat dikatakansebagai pengetahuan awal para siswa tentang fenomena atau kejadian yang akandipelajari.
Pengetahuan yang telah dimiliki siswa mengarahkan perhatiannya padasatu atau dua hal tertentu dari seluruh materi yang sedang dipelajari. Dengandemikian, pengetahuan siswa ini menjadi semacam ‘penyaring’ tentang hal-halyang harus dipelajari. Selain sebagai penyaring, pengetahuan yang telah dimilikijuga menentukan bangunan pengetahuan yang baru dikonstruksi. PengetahuanAnda tentang pembelajaran IPA dalam mempelajari sajian buku ini menjadi‘filter’ untuk menyaring pengetahuan yang dipelajari dan menjadi salah satufaktor yang kuat dalam mengkonstruksi pengetahuan baru yang Anda miliki.
Ketika siswa menerima penjelasan gurunya bahwa bunyi merambatdalam bentuk gelombang, siswa itu membayangkan berbagai macam bunyi,berbagai jenis gelombang, dan juga kata merambat dengan beberapa padanannya.Hasil akhir konstruksi pengetahuan yang dibangun siswa itu dapat berupa senggelombang. Sudah barang tentu gambaran seperti ini sangat berbeda darigambaran yang diinginkan gurunya, bukan? Tugas guru adalah mengubahgambaran semacam itu lewat kegiatan mengajar. Cara belajar semacam ini olehpara ahli disebut belajar secara generatif. Mengingat pengetahuan awal danpengalaman setiap siswa sangat individual, maka pengetahuan yang barudikonstruksi masing-masing siswa ada kemungkinan tidak sama satu denganyang lain.
Proses belajar siswa sesungguhnya mirip dengan yang dilakukan parailmuwan IPA, yaitu melalui pengamatan dan percobaan. Penelitian IPA adalahpenelitian empiris. Siswa Madrasah Ibtidaiyah juga belajar IPA melaluiinvestigasi yang mereka lakukan sendiri. Jika pengalamannya tidak memadai,maka pemahamannya juga tidap lengkap. Investigasi merupakan cara normalbagi siswa yang belajar. Seberapa besar ketergantungan seseorang padapengalaman jarang diperhatikan oleh para guru. Mari kita perhatikan kisahseorang anak buta warna yang sedang belajar tentang warna. Gurunya sudahputus asa menjelaskan kepada anak itu tentang perbedaan antara warna hijau dankuning. Akhirnya si anak pun menyerah menerima penjelasan si guru. Hasilulangan cukup membanggakan, ia mengungkapkan dengan persis apa yangdijelaskan gurunya. Tetapi, ketika ditanya apa alasannya, ia berkata: “Saya tidaktahu, hanya itulah yang disampaikan Pak Guru”
Pengalaman memang esensial dalam belajar, tetapi tanpa interpretasi,pengalaman dapat menjadi tidak berarti. Para siswa di pegunungan setiap tahun,di musim dingin, mengalami kabut asap. Kadang-kadang bahkan terpaksadiliburkan dengan tujuan agar mereka tidak menghirup kabut asap ini secaraberlebihan. Tetapi, apa yang terjadi? Mereka bukannya tinggal di rumah selamalibur kabut asap ini, tetapi sebaliknya mereka jalan ke sana ke mari, salingmengunjungi temannya. Mengapa? Karena, mereka tidak mengerti tentang kabutasap. Mengerti berarti memberi makna. Mengerti sesuatu berarti sesuatu itubermakna baginya. Memberi makna berarti membuat interpretasi. Maka,pengalaman harus diinterpretasikan.
Menginterpretasi suatu fenomena berarti menentukan hubungannyadengan yang lain. Pada awalnya, fakta tidak bermakna bagi siswa karena tidaksesuai dengan kerangka berpikir yang telah ada. Siswa merasa terganggu.Kemudian, secara tiba-tiba hubungannya dengan yang lain menjadi jelas. Faktayang baru sudah sesuai dengan kerangka berpikir yang lama. Ia merasa nyamanlagi. Tugas guru adalah membantu siswa menginterpretasikan fakta-fakta (daripengalaman) agar menjadi bermakna bagi dirinya sendiri. Ia mengkonstruksipengetahuannya sendiri

LATIHAN 2
1. Carilah ciri-ciri utama belajar dalam paradigma kostruktivisme!
Petunjuk jawaban latihan:
1. Belajar dipahami sebagai proses mengkonstruksi pengetahuan
2. Belajar berarti proses aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannyasendiri
3. Belajar lebih terarah kepada pencarian makna
4. Ada banyak kebenaran, yaitu yang sesuai dengan pengalamannya

v  Arti dan Belajar bagi Siswa Sekolah Dasar ( SD )
Terdapat beragam pemahaman tentang belajar yang dkemukakan oleh paraakhli pendidikan khususnya, mereka mencoba memaparkan pengetahuannyaberdasarkan pengalaman secara praktis dalam dunia pendidikan dimana belajarmerupakan salah satu bentuk kegiatannya.
Pemahaman belajar saat ini, berkembang dalam dua paradigma belajar yangberbeda berdasarkan pemahaman pada tradisi modern ataupun tradisional.Belajar secara tradisional diartikan sebagai upaya menambah dan mengumpulkansejumlah pengetahuan. Sementara untuk tradisi modern, sebagaimanadiungkapkan oleh Morgan dkk (1986), belajar adalah setiap perubahan tingkahlaku yang realatif tetap tejadi sebagai hasil latihan dan pengalaman. Definisi yagke dua ini memuat dua unsur penting dalam belajar yaitu, pertama belajar adalahperubahan tingkah laku, dan ke dua perubahan yang terjadi adalah terjadi karenaadanya bentuk latihan dan pengalaman.
Sosok seorang guru SD, perlu juga memahami berbagai hal yangtidak dapat digolongkan ke dalam penyebab terjadinya suatu perubahan yangdisebut kegiatan belajar. Misalnya perubahan yang terjadi karena unsurkedewasaan ini tidak menunjukkan kegiatan belajar. Belajar bukan terjadi kerenaadanya warisan genetika , atau respon secara alamiah, kedewasaan, atau keadaanorganisme yang bersipat temporer seperti kelelahan, pengaruh obat-obatan,persepsi, motivasi, atau gabungan semuanya (Gagne, 1985).
Gagne selanjutnya mengemukakan lima kemampuan manusia yangmerupakan hasil belajar sehingga pada gilirannya membutuhkan sekian kondisibelajar untuk pencapaiannya. Lima kemampuan hasil belajar tersebut adalahsebagai berikut :
1.      Keterampilan intelektual, dalam prosesnya akan sangat tergantung kepadakapasitas intelektual kecerdasan seseorang dan pada kesempatan belajaryang tersedia. Misalnya sejumlah pengetahuan yang diperoleh dari hasilbaca tulis, sampai kepada pemikiran yang rumit.
2.      Starategi kognitif, mengatur cara belajar dan berpikir seseorang dalamarti yang seluas-luasnya, termasuk kemampuan memecahkan masalah.
3.      Informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi dan fakta, umumnyadikenal dan tidak jarang.
4.      Keterampilan motorik yang diproleh di sekolah, antara lain ketrapilanmenulis, mengetik, mengunakan mikroskup dan sebagainya.
5.      Sikap dan nilai, berhubungan dengan arah serta intensitas emosional yangdimiliki seseorang, dari kecenderungan bertingkah laku terhadap orang,barang atau kejadian.

Belajar siswa akan sangat tergantung kepada kegiatan belajar yangdiciptakan guru, melalui berbagai macam kegiatan pembelajaran yangdikonstruksinya di dalam kelas.
Paham modernisasi tentang bagaimana siswa pada usia sekolah belajar,kecenderungannya menganut tradisisi konstruktivis yang dipelopori oleh JeanPiaget (1986-1980), dan Lev Vygotsky (1896-1936) dan Bruner (1960).
a.       Piaget, menurut dia anak adalah seorang yang aktif, membentuk ataumenyusun pegetahuan mereka sendiri pada saat mereka menyesuaikanpikirannya sebagaimana terjadi ketika mereka mengeksplorasi lingkungandan kemudian tumbuh secara kognitif terhadap pemikiran yang logis.
b.      Vigotsky, menurut dia anak mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksipngajaran dan sosial dengan orang dewasa (guru) dengan catatan orangdewasa itu menjembatani arti dengan bahasa dan tanda atau simbol, untukkemudian anak tumbuh dengan pemikiran yang verbal.
c.       Bruner, menurut dia anak melalui aktivitas dengan orang dewasa (guru)mengkonstruksi pengetahuan mereka itu dalam bentuk tampilan spiral mulaidari ” pree speech” sebagaimana anak menetapkan format, peranan dan halyang rutin yang membuatnya merasa bebas suntuk kemudian dapat terlibatdalam penggunaan bahasa yang lebih komplek sebagaimana realitasnya
Beradasarkan pendapat ke tiga ahli tersebut, dapat ditarik kesimpulan untukperbedaan dan persamaannya. Persamaannya, anak adalah seorang yang aktif,memiliki kemapuan untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Sedangkanpebedaannya, dapat dilihat berdasarkan pendapat :
a. Piaget, menekankan bahwa penciptaan lingkungan belajar menjadisorotan penting. Lingkunganlah yang akan menarik si anak; membuatmereka bekerja melakukan eksplorasi; anak akan mengkonstruksipengetahuannya sendiri, dan bukan guru yang mengkonstruksi
pengetahuan si anak.
b.Vigotsky, menekankan interaksi anak dengan guru, oleh karena itu, gurusepatutnya memahami dunia anak. Suatu interaksi baru dapat dikatakanbermakna bagi anak, jika guru benar-benar telah menjebatani arti dansimbol atau lambang-lambang yang digunakan dalam proses interaksi itu.
c. Bruner, menekanakan kepada gambaran proses pikiran anak dalammengkonstruksi suatu pengetahuan. Tampilannya berbentuk spiral mulaidari format, peranan, dan hal-hal yang rutin (bentuk yang sederhana/prespeech)hingga terlibat dalam penggunaan bahasa yang lebih kompleksebagaimana tersaji dalam realitas kehidupan.

Menyimak dan menganalisis pemaparan pendapat ahli di atas, sebagaiseorang guru apa yang yang harus anda lakukan ? Bagaimana pandangan andaterhadap keberadaan anak sebagai siswa yang akan kita libatkan dalam prosespembelajaran di kelas ?
Hal penting dari pemaparan tersebut adalah bahwa siswa SD merupakansosok seorang anak yang aktif. Seorang guru yang konstruktivis adalah merekayang selalu menyediakan lingkungan dan bahan belajar bagi siswanya sesuaidengan kebutuhan mereka. Dan guru menyadari betul bahwa siswanya senangmelakukan eksplorasi lingkungan belajar. Selalu berusaha menciptakan system interaksi pengajaran dengan siapa siswa itu berinteraksi dan menjembatanipemahaman arti yang diperlukan siswanya.
Eksplorasi lingkungan belajar dan interaksi yang terjadi, merefleksikanpengalaman belajar siswa sehingga membentuk pengetahuan yang berkembangterus sebagai milik siswa sendiri (internalisasi)
Terdapat tujuan belajar yang secara wajar dapat diwujudkan guru untuksiswa di Sekolah Dasar, antara lain :
1.      Menjadikan siswa senang, bergembira dan riang dalam belajar
2.      Memperbaiki berpikir kreatif siswa, keingintahuan siswa, kerja sama, hargadiri dan rasa pecaya diri sendiri, khususunya dalam menghadapi iklimpembelajaran yang dirancang dan dilakasnakan guru (kehidupan akademik)
3.      Mengembangkan sikap, positif anak-anak dalam belajar.
4.      Mengembangkan afeksi dan kepekaan terhadap peristiwa-peristiwa yangterjadi di lingkunganya, khususnya perubahan yang terjadi dalam lingkungansosial dan teknologi.

v  Masalah- masalah Belajar Siswa Sekolah Dasar
Apakah yang dimaksud dengan masalah belajar ? masalah belajar adalahsuatu kondisi tertentu yang dialami siswa dan menghambat kelancaran hasilbelajarnya. Kemungkinan munculnya masalah sangat beragam bisa jadi karenakeadaan dirinya atau lingkungan yang tidak memngkinkan untuk siswa dapatbelajar dengan baik.
Masalah belajar pada siswa SD dapat digolongkan kepada :
a)Sangat cepat belajar, yaitu siswa yang memiliki bakat akademik yang cukuptinggi (IQ 130 ke atas), siswa seperti ini memerlukan tugas-tugas khusus.
b)                  Keterlambatan Akademik, yaitu siswa yang secara akademik (kemampuanbelajar) cukup baik karena memiliki intelegensi normal (IQ di atas 100)tetapi tidak bisa memanfaatkan kemampuan tersebut secara baik.
c)Lambat belajar,yaitu siswa yang memiliki kemampuan akademik kurangmemadai (IQ sekitar 70 -90), biasanya disebut juga dengan anak yangmemiliki kekampuan akademik di bawah rata-rata, sehingg peludipertimbangkan untuk memperoleh bantuan layanan secara khusus.
d)                 Sikap dan kebiasaan buruk, yaitu siswa yang kegiatan atau perbuatanbelajarnya berlawanan atau tidak sesuai dengan kebiasaan belajarnormalnya, misalnya malas, belajar hanya menjelang ujian, atau menundatugas yang diberikan oleh guru.
e)Kehadiran di sekolah, yaitu siswa yang sering tidak masuk sekolah ataumenderita sakit dalam jangka waktu lama sehingga kehilangan waktusebagaian besar belajarnya.

Masalah belajar pada siswa sekoolah dasar dapat terjadi dan bersumber dari siswanyasendiri, lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Untuk mempelajarinyaanda perhatikan uaraian berikut ini :
a.       Faktor yang bersumber dari siswa
1.      Tingkat kecerdasan rendah
2.      Kesehatan sering terganggu
3.      Alat pendengaran dan penglihatan kurang berfungsi
4.      Gangguan alat perseptual
5.      Tidak menguasai cara belajar yang baik

b.      Faktor yang bersumber dari lingkungan keluarga
1.      Kemampuan ekonomi keluarga kurang memadai
2.      Kurang mendapat perhatian dan pengawasan dari orang tua
3.      Harapan orang tua terlalu tinggi pada anak
4.      Orang tua pilih kasih terhadap anak

c.       Faktor yang bersumber dari lingkungan sekolah
1.      Masalah yang muncul dari sekolah bersumber dari kurikulumkurang sesuai, guru kurang menguasai bahan pelajaran, metodemengajar kurang sesuai, alat dan media pembelajaran kurangmemadai.

D. RANGKUMAN
Kita mengenal dua model belajar. Dalam paradigma absolutism belajar dipahamisebagai proses perubahan tingkah laku yang mencerminkan keadaan dari tidaktahu menjadi tahu, dari belum mengerti ke sudah mengerti.Dengan cara ini siswamenemukan hanya satu kebenaran, yaitu kebenaran yang datang dari guru. Caraberpikir siswa bersifat konvergen. Dalam paradigma konstruktivisme, belajardimaknai sebagai proses aktif siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiridengan cara membuat link dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnyamelalui interaksi dengan yang lain. Dengan cara ini siswa belajar bahwapengetahuan itu tidak tunggal karena setiap siswa mengkonstuksipengetahuannya sendiri. Siswa belajar berpikir divergen.
Belajar secara tradisional diartikan sebagai upaya menambah dan mengumpulkansejumlah pengetahuan. Sementara untuk tradisi modern, sebagaimanadiungkapkan oleh Morgan dkk (1986), belajar adalah setiap perubahan tingkahlaku yang relatif tetap tejadi sebagai hasil latihan dan pengalaman.Sosok seorang guru SD, perlu juga memahami berbagai hal yang tidakdapat digolongkan ke dalam penyebab terjadinya suatu perubahan yang disebutkegiatan belajar. Misalnya perubahan yang terjadi karena unsur kedewasaan initidak menunjukkan kegiatan belajar. Masalah belajar pada siswa SD dapatterjadi dan bersumber dari siswanya sendiri, lingkungan keluarga dan lingkungansekolah.

E. TES FORMATIF
Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling tepat !
1.      Belajar didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang mencerminkandari keadaan belum tahu ke keadaan sudah tahu, termasuk paradigma ……
B.     Behaviorisme
C.     Konstruktivisme
D.    Absolutisme
E.     Humanisme

2.      Cara belajar pada paradigma absolutisme seperti berikut ini, kecuali….
A.    Tidak memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan pendapatnyasendiri
B.     Semua kegiatan terpusat pada guru.
C.     Hanya penjelasan guru yang dianggap benar
D.    Semua kegiatan terpusat pada siswa

3.      Ciri-ciri utama belajar dalam paradigma kostruktivisme adalah sebagaiberikut, kecuali……
A.    belajar dipahami sebagai proses mengkonstruksi pengetahuan
B.     belajar berarti proses aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannyasendiri
C.     belajar lebih terarah kepada menerima dan menghafal
D.    belajar lebih terarah kepada pencarian makna

4.      Yang dimaksud dengan pegetahuan awal pada diri siswa adalah…….
A.    Pengetahuan yang dimiliki sebelum mengikuti proses kegiatanpembelajaran
B.     Pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan praktikum
C.     Pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan masyarakat
D.    Pengetahuan yang dimiliki setelah selasai mengikuti kegiatan pembelajaran

5.      Cara berpikir siswa dalam paradigma konstruktivisme bersiat ……
A.    Konvergen
B.     Divergen
C.     Paralel
D.    Dikotomus

6.      Pemahaman belajar saat ini, berkembang dalam dua paradigma belajar yangberbeda berdasarkan pemahaman pada tradisi modern ataupun tradisional.Belajar secara tradisional diartikan sebagai .......
A.    Upaya menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan.
B.     Perubahan tingkah laku yang relatif tetap terjadi sebagai hasil latihandan pengalaman.
C.     Upaya memperbaiki tingkah laku afektif dan psikomotor
D.    Perubahan tingkah laku yang dibentuk oleh hasil pembelajaran

7.      Ciri seorang guru yang konstruktivis adalah ......
A.    Selalu menyediakan lingkungan dan bahan belajar bagi siswanyasesuai dengan kebutuhan mereka.
B.     Mendorong siswanya senang melakukan eksplorasi lingkunganbelajar.
C.     Selalu berusaha menciptakan sistem interaksi pembelajaran yangefektif
D.    Menjembatani pemahaman arti yang tidak diperlukan siswanya.

8.      Yang dimaksud dengan masalah belajar adalah......
A.    Suatu kondisi tertentu yang dialami siswa dan menghambatkelancaran hasil belajarnya
B.     Suatu kondisi tertentu yang dialami siswa dan memperlancar hasilbelajarnya
C.     Suatu kondisi yang dialami siswa dan bekaitan dengan lingkunganmadrasah
D.    Suatu kondisi yang dialami oleh siswa dan melibatkan temansejawatnya.
9.      Hal yang tidak dapat digolongkan ke dalam penyebab terjadinya suatuperubahan dari kegiatan belajar adalah sebagai berikut, kecuali ........
A.    Kedewasaan
B.     Kecerdasan
C.     Keterampilan
D.    Kesungguhan

10.  Faktor masalah belajar yang bersumber dari siswa adalah sebagai berikut,kecuali .........
A.    Tingkat kecerdasan rendah
B.     Kurang perhatian orang tua
C.     Kesehatan sering terganggu
D.    Gangguan alat perseptual

F. BALIKAN DAN TINDAK LANJUT
Cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban Tes Formatif 1yang ada pada bagian belakang bahan belajar mandiri ini. Hitunglah jawabanAnda yang benar, kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahuitingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar
Rumus :
Tingkat Penguasaan =jumlah jawaban anda yang benarX  100 %
                                                                10
Arti Tingkat Penguasaan :
90 % - 100 % = Baik Sekali
80 % - 89 % = Baik
70 % - 79 % = Cukup
< 69 % = Kurang
Kalau anda mencapai tingkat penguasaan 80 % ke atas, maka Anda dapatmeneruskan dengan kegiatan Belajar 2. Bagus ! Akan tetapi apabila tingkatpenguasaan Anda masah di bawah 80 %, Anda harus mengulang KegiatanBelajar 1, terutama bagian yang belaum Anda kuasai.




Kegiatan Belajar II

HAKEKAT PEMBELAJARAN IPA

A.                PENGANTAR
Dalam memahami bagaimana Pembelajaran IPA yang diharapkan terjadidi lingkungan sekolah Anda, ada baiknya Anda terlebih dahulu memahamipembelajaran IPA dalam paradigma absolutisme dan konstruksivisme yang akanmewarnai setiap pelaksanaan pembelajaran IPA.
Dalam paradigma absolutisme, materi bahan ajar telah disusun oleh paraahli, baik ahli IPA maupun ahli pendidikan IPA. Oleh karena itu, materi yangdisampaikan dalam proses pembelajaran tidak dapat dipertanyakan. Sepertiitulah yang harus dipelajari. Proses pembelajaranya berbentuk alih pengetahuan.Para guru berfungsi sebagai agen alih pengetahuan. Dengan menganut teoritabula rasa, siswa dianggap kertas putih yang siap ditulisi oleh para guru apapunisi dan betuknya. Evaluasi hasil belajar dalam paradigma ini adalah reproduksipengetahuan, seberapa banyak siswa menguasai pengetahuan yang telahdiberikan. Pembelajaran IPA dengan paradigma absolutisme adalah ibaratmengisi botol kosong.
Untuk paradigma konstruktivisme, Pembelajaran IPA dipahami sebagaiproses membangun aktifitas siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dengancara mebuat hubungan / keterkaitan antara pengetahuan yang telah dimilikisiswa dengan pengetahuan yang sedang dipelajari melalui interaksi dengan yanglain (kontektual)


B. URAIAN MATERI
v  Pembelajaran IPA dalam Paradigma Absolutisme
Dalam paradigma absolutisme mengajar didefinisikan sebagai prosesmerubah tingkah laku siswa dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang salah menjadibenar. Tingkah laku yang benar tersebut dirumuskan oleh para ahli. Untukmencapai tingkah laku yang benar itu, kepada siswa diberikan sejumlah bahan /materi IPA yang harus dipelajari. Materi itu juga dipilih oleh para ahli. Sebagaikonsekuensi dari pemikiran ini, maka diperlukan proses alih pengetahuan daripara ahli ke siswa. Proses alih pengetahuan di sekolah terjadi pada setiapkegiatan Pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.
Guru berfungsi sebagai pelaksana alih pengetahuan. Guru menjadi agenalih pengetahuan. Para ahli menyimpan ilmu pengetahuan yang disusunya berupabuku teks, makalah, aritikel, laporan penelitian dsb. Oleh guru ditulis sebagibuku ajar. Para guru mengolahnya dan menyampaikannya kepada siswa. Gurumengatur seberapa luas dan seberapa dalam pengetahuan yang harus diteruskankepada siswa. Guru sebagai agen alih pengetahuan. Guru berfungsi sebagaipemutar keran yang menentukan seberapa banyak air yang dikucurkan. Karenasebagai pemutar keran maka Guru tidak punya hak untuk menetapkan ciriciripengetahuan yang disampaikan. Siswa, sebagai ember penampungkucuran pengetahuan dari keran, menerima begitu saja semua pengetahuan yangdikucurkan oleh gurunya.
Model mengajar dengan paradigma absolutisma bersifat satu arah- dariguru kesiswa dan tidak tejadi interaksi antar siswa karena mereka tinggalmenerima bahan ajar yang sama. Karena itu, pengajaran ini juga bersifatindoktrinasi-memberitahu semua pengetauan kepada siswa. Apa akibatnya? Ya,betul! siswa merasa pasif siswa cukup duduk manis, mendengarkan, danmencatat. Selanjutnya siswa mengulang kembali secara terus menerus hinggasaat ulangan atau ujian tiba. Pada saat itu siswa diminta menunjukkan seberapabanyak pengetahuan yang telah siswa kuasai. Semakin mirip dengan apa yangdisampaikan guru semakin memperoleh nilai yang tinggi. Siswa mereproduksipengetahuan yang telah diberikan oleh guru. Siswa menjadi mesin foto kopi.Siswa tidak memperoleh ruang untuk berkreasi. Karena semua sudah baik, semuasudah benar, semua sudah dipelajari oleh para ahli dalam bidangnya maka siswatidak perlu melakukan sesuatu lagi kecuali mendengarkan, mencatat danmembaca ulang.
Siswa tidak perlu merasakan, mengalami, mencoba, mempraktekkan diri,sebagai seorang pencari kebenaran. Akibat lebih jauh, siswa merasa bosanbelajar IPA. IPA menjadi salah satu mata pelajaran yang kurang menarik.
Mengajar dalam paradigma absolutisme dapat diibaratkan sebagaikegiatan ’mengisi botol kosong’. Cara seperti ini tidak akan membuat siswaMadrasah Ibtidaiyah menggemari IPA. IPA tidak bermakna bagi siswa. Padahal,kurikulum 2006 ini megamanatkan bahwa Mata Pelajaran IPA di MI bertujuanagar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1.      Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yangbermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
2.      Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran tentang adanyahubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi danmasyarakat
3.      Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,memecahkan masalah dan membuat keputusan
4.      Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjagadan melestarikan lingkungan alam

Coba anda perhatiakan diagram di bawah ini, pelaksanaan pembelajarandengan paradigma absolutism dengan konstruktivisme nampak sangat berbedabukan !. Cermati perbedaan tersebut pada saat sebelum dan sesudahpembelajaran itu dilaksanakan.

           
Digram. Pembelajaran Absolutisme dan Konstruktivisme

Paradigma pembelajaran Absolutisme dan pembelajaran konstruktivismenampak perbedaan yang sangat jelas berdasarkan pemaparan dimensi silabusyang dibuat, aspek pedagogik ataupun hasil evaluasi.
Dalam paradigma absolutisme, materi bahan ajar telah disusun oleh paraahli, baik ahli IPA maupun ahli pendidikan IPA. Oleh karena itu, materi yangdisampaikan dalam proses pembelajaran tidak dapat dipertanyakan. Sepertiitulah yang harus dipelajari. Proses pembelajaranya berbentuk alih pengetahuan.
Untuk paradigma konstruktivisme, Pembelajaran IPA dipahami sebagaiproses membangun aktifitas siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dengancara mebuat hubungan / keterkaitan antara pengetahuan yang telah dimilikisiswa dengan pengetahuan yang sedang dipelajari melalui interaksi dengan yanglain (kontektual). Perhatikan tabel berilktu ini :

Tabel
Perbedaan Tradisi behaviorisme dan Konstrutivis
           

Dalam paradigma absolutisme menganut teori tabula rasa, siswa dianggapkertas putih yang siap ditulisi oleh para guru apapun isi dan betuknya. Evaluasihasil belajar dalam paradigma ini adalah reproduksi pengetahuan, seberapabanyak siswa menguasai pengetahuan yang telah diberikan. Pembelajaran denganparadigma absolutisme sebagai alih pengetahuan yang ibaratnya guru seperti’mengisi botol kosong’. Karena siswa dipandang tidak memiliki pengetahuanawal yang selanjutnya mereka menerima pengetahuan baru tanpa harus dibantah.Dalam paradigma konstruktivisme, materi tidak disusun dari atas tetapiditetapkan bersama-sama antara siswa dan guru dengan fokus sesuai dengankebutuhan siswa. Pedagoginya berupa proses fasilitasi agar konstruksipengetahuan yang dilakukan siswa berlangsung. Guru berfungsi sebagaifasilitator. Membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya dengan caramereduksi konflik-konflik konseptual sesedikit mungkin. Evaluasi hasil belajarberupa asessmen unjuk kerja. Dengan demikian hasil belajar tidak sekedarperberian tes tetapi kumpulan hasil kerja yang telah siswa lakukan yang disusundalam suatu portofolio. Pembelajaran dengan paradigma konstruktivisme adalah“ pemberdayaan.”

C. LATIHAN 1
1. Carilah ciri khas pembelajaran dalam tradisi absolutisme!
Petunjuk jawaban latihan :
1. Mengisi botol kosong, alih pengetahuan

v  Pembelajaran IPA dalam Paradigma Konstruktivisme
Dalam paradigma konstruktivisme, belajar dipahami sebagai proses aktifsiswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mebuat hubungan /keterkaitan antara pengetahuan yang telah dimiliki dengan pengetahuan yangsedang dipelajari melalui interaksi dengan yang lain. Pengertian belajar sepertiini, paling tidak mengandung tiga hal. Pertama adalah proses aktif untukmengkonstruksi pengetahuan. Kedua adalah membuat hubungan / keterkaitanantara pengetahuan yang telah dimiliki dengan pengetahuan yang sedangdipelajari. Ketiga adalah interaksi siswa dengan yang lain.
Mari kita lihat situasi pada saat seorang anak sedang belajar main layanglayangdengan bapaknya. Apa yang mereka lakukan? Anak dan bapakberkolaborasi menaikkan layang-layang. Bisa jadi, si anak akan berlari sambilmenarik benang, dan si bapak memegangi layang-layang tegak berdiri ke atas.Atau sebaliknya, mereka juga melakukan dialog agar dihasilkan keputusan
bersama dan dapat dilaksanakan secara bersama. Mungkin juga antara merekajuga ’bertengkar’, ’beteriak’ saling meminta agar menyesuaikan posisi terhadapyang lain. Tujuan akhir adalah si anak mampu menaikkan layang-layang sendiri.
Mereka berdua aktif, tentunya, berlarian di lapangan. Si anak tentu secaraterus menerus membuat ’link’ antara pengetahuan yang diperoleh harisebelumnya dengan kejadian yang saat itu dialami. Marilah kita telaah apa yangdilakukan si bapak. Pada awal kegiatan, peran si bapak sangat besar. Iamenunjukkan tempat yang cocok untuk menaikkan layang-layang. Mungkin juga
ia membantu membawakan layang-layangnya agar tidak sobek. Ia membericontoh bagaimana cara menaikkan layang-layang dengan baik dan efisien.Setelah layang-layang stabil di atas, ia meminta si anak agar memegangi benangdan memain-mainkan layang-layang dengan cara menarik-mengulur benang.
Hari-hari berikutnya, perannya perlahan-lahan dikurangi, sehingga padasautu waktu tiada sesuatu pun yang harus dilakukan. Si anak sudah sungguhsungguhmampu menaikkan layang-layang dalam berbagai situasi angin, danberbagai bentuk layang-layang. Disebutkan si anak sudah diberdayakan dalambermain layang-layang.
Kegiatan semacam ini bukan saja alih pengetahuan, tatepi jugamemfasilitasi si anak dalam mengkonstruksi pengetahuannya.
Demikian juga, proses mengajar dalam paradigma konstruktivisme,siswa, seperti anak yang sedang belajar menaikkan layang-layang, aktif mencaripengetahuan (IPA) didampingi guru sebagai fasilitator yang juga aktif. Merekasecara bersamasama terlibat aktif dalam dialog mencari kebenaran IPA.
                       
Gb. Orang Tua dan Anak Bermain Layang-layang

Perhatikan gambar di atas, anda bisa mengambil makna dari kegiatanmain layang-layang tersebut, bukan ! Esensi apa yang terkandung dari gambartersbut ? Anda benar, dalam seting pembelajaran kegiatan tersebut menunjukkanbahwa mengajar berarti memberdayakan mengajar untuk belajar.
Walaupun penerapan tradisi konstruktivis itu berbeda-beda, namun adahal-hal yang sama. Ishii (2003) menyajikan kesimpulan Ernest tentang implikasipedagogis dari tradisi konstruktivismes.
1.Peka dan perhatian terhadap pengetahuan awal siswa yang dibawa sebelummengikuti pelajaran formal
2.Penggunaan konflik kognitif untuk meremidi miskonsepsi. Tampak sepertimembiarkan siswa mengalami kebingungan dalam berpikir, dan dari sanamereka akan menngembangan pemahamannya sendiri, atau paling tidakmencari jalan keluar dari kebingungan.
3.Perhatian terhadap petakognisi dan strtegi self-regulation. Ini merupakankosekuensi dari mengalami konflik kognitif siswa muali berpikir tentang caraberpikir yang digunakannya, dan menjadi bertanggung jawab atas belajarmereka sendiri.
4.Penggunaan berbagai macam representasi. Berbagai macam representasimengahasilkan banyak peluang menuju pengetahuan awal siswa.
5.Kesadaran bahwa tujuan siswa belajar itu penting. Di kelas bukan tujuan gurutetapi tujuan siswa, mereka ingin mengetahui dan tahu manfaatnya.
6.Kesadaran akan konteks sosial. Berbagai jenis pengetahuan muncul dalamberbagai macam kelompok sosial. Ada pengetahuan para pedagang kakilima, ada pengetahuan para pejabat, ada pengetahuan formal di sekolah dsb.

Ishii (2003) menawarkan ‘five guiding principles of constructivism’ yangdapat diterapkan di kelas.
1.      Posing problems of emerging relevance to students
Dengan fokus pada minat siswa dan pengetahuan awal sebagai titik awal,siswa menjadi mudah terlibat dan termotivasi untuk belajar. Pertanyaanpertanyanyang relevan diberikan kepada siswa untuk mendorong merekaberpikir dan mempertanyakan apa yang dipikirkan itu.
2.      Structuring learning around primary concepts
Ini merujuk pada perancangan pelajaran di sekeliling ide atau konseputama, daripada menyajikan berbagai topik yang terpisah-pisah satu denganyang lainnya. Menggunakan konsep yang lebar memungkinkn siswa terlibatdari berbagai perspektif dan kemampuannya.
3.      Seeking and valuing students' points of view
Prinsip ini memberi kesempatan mengakses penalaran siswa danproses berpikirnya. Dengan cara itu, guru dapat menyusup lebih dalam agarbelajar menjadi lebih bearti bagi siswa. Tentu saja Anda sebagai guru harussiap menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu.
4.      Adapting curriculum to address students' suppositions
Adapatasi kurikulum untuk menghargai gagasan siswa merupakan fungsi darikebutuhan kognitif pada tugas-tugas spesifik dan hakikat pertanyaan siswayang terlibat pada tugas tersebut.
5.      Assessing student learning in the context of teaching
Dalam pengajaran tradisional, konteks belajar sering tidak berhubungandengan assessment (penilaian). Assessment yang autentik mestinya dapatdicapai melalui pengajaran, interaksi antara guru dan siswa, siswa dengansiswa, serta pengamatan tentang tugas-tugas yang dilaksanakan siswa.

v  Guru sebagai fasilitator
Memperhatikan kelima prinsip yang telah disebutkan, makasesungguhnya guru lebih berposisi sebagai fisilitator dari pada sebagai narasumber. Kebanyakan guru lakukan selama ini di kelas lebih mirip sebagai narasumber ketimbang sebagai fasilitator. Mengapa?!. Anda memposisikan dirisebagai seorang yang lebih tahu dibandingkan para siswa di kelas itu. Andabertugas memberikan pemahaman tentang konsep-konsep, prinsip-pinsip danteori-teori IPA kepada siswa. Anda juga menempatkan sebagai seorangpemimpin di kelas itu. Fungsi semacam ini adalah seorang nara sumber. Apayang dilakukan seorang fasilitator? Jika Anda memposisikan diri sebagaifasilitator maka Anda akan berusaha agar semua siswa berpartisipasi sehinggatujuan belajar yang telah ditetapkan tercapai secara optimal. Anda juga akanlebih banyak menggali siswa untuk melakukan eksplorasi pengetahuan danpengalaman baru.
Mengubah diri dari narasumber menjadi fasilitator tidak mudah. Andamesti mulai bersikap terbuka, bersedia menerima masukan, kritik dan pendapatyang berbeda dari orang lain atau bahkan dari para siswa. Dalam kegiatanpembelajaran, tidak selalu sesuai dengan yang telah direncanakan, karena ituAnda perlu memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan proses dandinamika yang dialami oleh para siswa. Anda juga perlu memiliki kemampuanmembaca situasi yang terjadi di kelas sehingga dengan mudah dapat melakukantindakan tertentu sesuai dengan situsi yang tengah terjadi. Anda perlumengembangkan kepekaan terhadap situasi.
Dalam proses pembelajaran di kelas, Anda kadang-kadang perlumencairkan suasana lebih dahulu agar tidak kaku. Siswa, karena keterbatasannya,sering mengajukan pendapatnya secara tergesa-gesa dan kurang lengkap, adabaiknya jika Anda mengelaborasi pendapat mereka itu. Selebihnya adalahmendorong semua siswa untuk aktif dan melakukan yang terbaik bagi dirinya
dan juga bagi kelasnya.
Gb. Kegiatan Pembelajaran Konstruktivisme

Anda perhatikan gambar di atas, dalam pembelajaran konstruktivisme,nampak iklim pembelajaran lebih beragam dan semua aktif malakukan kegiatanpembelajaran, menyenagkan bukan !
Lima cara untuk menarik perhatian siswa. Bagi banyak siswa IPA seringtidak menarik. Kita perlu melakukan sesuatu di awal pembelajaran sehinggapelajaran hari itu menjadi menarik bagi mereka. Anda dapat melakukanpermainan atau kegiatan pengantar, membuat anekdot, menyajikan kasus nyata,mengajukan pertanyaan atau memberikan ringkasan isi.
Lima cara untuk meningkatkan pemahaman. Setelah siswa tertarikterhadap pelajaran IPA, Anda perlu membantu mereka memahami bahan ajaryang disajikan. untuk meningkatkan pemahaman siswa, yaitu:
(1) menyajikan garis besar
(2) menunjukkan kata kunci
(3) memberikan contoh-contoh
(4) membuat analogi
(5) menggunakan alat bantu
Pengembangan pembelajaran kontruktivisme, bermula dari teoriperkembangan intelektual Piaget, yang memandang bahwa belajar sebagai prosespengaturan diri (self regulation) yang dilakukan seseorang dalam mengatasikonflik kognitif. Konflik ini terjadi ketika terdapat ketidakelarasan antarinformasi yang diterima oleh siswa dengan struktur kognitif yang dimilikinya.
Munculnya konflik kognitif terjadi akibat ketidakpaduan antarapengetahuan awal siswa dengan fenomena baru, sehingga diperlukan perubahanatau modifikasi struktur kognitif untuk mencapai keseimbangan, peristiwa iniberkelanjutan selama siswa menerima pengetahuan baru.
Masuknya informasi ke dalam struktur kognitif menurut Piaget melaluimekanisma asimilasi dan akomodasi. Pada proses asimilasi seseorangmenggunakan struktur kognitif dan kemampuan yang sudah ada untuk beradapsidengan masalah baru dan mengandung kesamaan dengan struktur mental yangsudah ada. Sedangkan pada mekanisma akomodasi melibatkan modifikasistruktur pengetahuan agar lebih sesuai atau mengakomodasi struktur kognitif.
Ketika siswa mulai belajar di kelas dipekirakan telah membawapengetahuan awal yang diperoleh dari pengetahuan sehari-harinya. Gagasan dankonsep awal tersebut perlu diasadari oleh guru dalam setiap kali kegiatanpembelajaran akan dimulai. Artinya guru harus menyadari bahwa dalam prosespembelajaran itu tidak hanya memindahkan gagasan guru kepada siswa,melainkan sebagai proses mengubah gagasan siswa yang ada melalui pemberianpengalaman belajar di dalam kelas. Oleh karena itu, dasar pembelajarankonstruktivis adalah pembelajaran efektif ketika guru mengetahui bagaimanapara siswa mampu memandang fenomena yang menjadi subjek pengajaran yangakan diberikannya atau bagaiman gagasan siswa atau konsep awal siswa menjadipemahaman awal juga pada saat pembelajaran itu akan dimulai.
Proses terjadinya modifikasi struktur kognitif dimulai dengandiadopsinya hal-hal baru sebagai hasil interaksi dengan lingkungan belajar yangdiikutinya. Kemudian hal baru tersebut dibandingkan dengan pengetahuan awalyang dimiliki siswa sebelumnya. Jika hal baru tersebut tidak sesuai deng konsepawal siswa, maka yang muncul adalah semacam konflik kognitif yang
mengakibatkan adanya ketikseimbangan struktur kognitifnya.
Melalui akomodasi dalam kegiatan pembelajaran siswa dapatmemodifikasi struktur kognitifnya menuju keseimbangan sehingga terjadiasimilasi. Tetapi kemungkinan lainnya adalah siswa akan ngalami jalan buntu(tidak mengerti) karena tidak mampu mengakomodasi hal baru, kalau ini yangterjadi pada siswa maka guru harus mencari strategi alternatif lainnya untuk
mengatasi hal tersebut.
Untuk memahami bagaimana pembentukan struktur kognitif ada baiknyaAnda perhatikan skema pembentukan struktur kognitif (perolehan pengetahuan)berikut ini :
           
Diagram. Struktur Kognitif

C. LATIHAN 2
1. Carilah ciri khas pembelajaran dalam tradisi konstruktivisme!
Petunjuk jawaban latihan :
1.      Proses aktif siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mebuathubungan / keterkaitan antara pengetahuan yang telah dimiliki denganpengetahuan yang sedang dipelajari melalui interaksi dengan yang lain
D. RANGKUMAN
Terdapat dua model pembelajaran IPA yang berkembang di Indonesia.Pertama,model “mengisi botol kosong” yang dikembangkan dalam paradigm absolutisme.Guru berfungsi sebagai agen alih pengetahuan dari para ahli IPA ke siswa yangbelajar IPA. Bersifat satu arah, dari guru ke siswa. Kedua,model memberdayakananak agar mampu main layang-layang sendiri’ yang dikembangkan dalamparadigma konstruktivisme. Guru berfungsi sebagai fasilitator agar prosesmengkonstruksi pengenetahuan IPA masing-masing siswa berlangsung.Mengajar bersifat dialog antar guru dan siswa serta antar siswa.
Lima cara untuk meningkatkan pemahaman. Setelah siswa tertarikterhadap pelajaran IPA, Anda perlu membantu mereka memahami bahan ajaryang disajikan. untuk meningkatkan pemahaman siswa, yaitu:
(1) menyajikan garis besar
(2) menunjukkan kata kunci
(3) memberikan contoh-contoh
(4) membuat analogi
(5) menggunakan alat bantu

E. TES FORMATIF
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat !
1.      Model mengajar dengan paradigma absolutisme bersifat satu arah dari gurukesiswa, yang terjadi pada diri siswa adalah.......
B.     Tidak terjadi interaksi antar siswa karena tinggal menerima bahan ajaryang sama.
C.     Siswa aktif melakukan kegiatan yang dirancang guru
D.    Terjadi interaksi yang aktif diantara siswa dan guru
E.     Pemahaman konsep IPA yang diberikan meningkat

2.      Peran guru dalam pembelajaran dengan paradigma absolutime adalah….
A.    Sebagai fasilitator pembelajaran
B.     Sebagai pelaksana alih pengetahuan
C.     Sebagai instruktur dalam kegiatan praktikum
D.    Sebagai motivator dalam pembelajaran
3.      Terdapat tiga hal penting dalam pembelajaran konstruktivisme di bawah ini,kecuali .......
A.    Proses aktif untuk mengkonstruksi pengetahuan.
B.     Membuat hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki dengan yangsedang dipelajari.
C.     Tidak ada hubungan antara pengetahuan awal siswa dengan yang dipelajari
D.    Ketiga adalah interaksi siswa dengan yang lain.

4.      Kebanyakan guru lakukan selama ini di kelas lebih mirip sebagai nara sumberketimbang sebagai fasilitator. Alasannya sebagai berikut, kecuali….
A.    Anda memposisikan diri sebagai seorang yang lebih tahu dibandingkanpara siswa
B.     Anda bertugas memberikan pemahaman tentang konsep-konsep, prinsippinsipdan teori-teori IPA kepada siswa.
C.     Anda bertugas memfasilitasi dan mnegkonstruksi pengetahuan pada dirisiswa
D.. Anda juga menempatkan sebagai seorang pemimpin di kelas itu.
Fungsisemacam ini adalah seorang nara sumber.

5.      Cara untuk menarik perhatian siswa seperti berikut ini, kecuali….
A.    Melakukan permainan
B.     Membuat anekdot,
C.     Menyajikan lawakan
D.    Menyajikan kasus nyata

F. BALIKAN DAN TINDAK LANJUT
Cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban Tes Formatif 2yang ada pada bagian belakang bahan belajar mandiri ini. Hitunglah jawabanAnda yang benar, kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahuitingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2
Rumus :
Tingkat Penguasaan =jumla jawaban anda yang benarX 100 % =
                                                                        10
Arti Tingkat Penguasaan :
90 % - 100 % = Baik Sekali
80 % - 89 % = Baik
70 % - 79 % = Cukup
< 69 % = Kurang

Kalau anda mencapai tingkat penguasaan 80 % ke atas, maka Anda telahmenuntaskan kegiatan Belajar 2. Bagus ! Akan tetapi apabila tingkat penguasaanAnda masah di bawah 80 %, Anda harus mengulang Kegiatan Belajar 2,terutama bagian yang belaum Anda kuasai

GLOSARIUM
*      Adaptasi : proses mental manusia yang memodifikasipengetahuan yang telah ada untuk menerimapengetahuan yang baru sehingga membentukstruktur baru.
*      Asimilasi : proses mental manusia yang menerimapengetahuan yang baru untuk disesuaikan denganpengetahuan yng telah ada
*      Mengajar : memberdayakan, mengajar untuk belajar(paradigma konstruktivisme).
*      Operasi : serangkaian tindakan memodifikasi suatu objekpengetahuan
*      Tingkah laku : suatu media yang dapat digunakan untukmenunjukkan suatu struktur pengetahuan yangtelah dipelajari.
*      Tradisi behaviourist : pembelajaran yang menekankan perubahantingka laku
*      Tradisi developmental : pembelajaran yang menekankan pembelajaranyang disesuaikan dengan perkembanganintelektual siswa
*      Tradisi konstruktivis : pembelajaran yang menekankan pada prosesmengkonstruksi pengetahuan


KUNCI JAWABAN
Tes Formatif 1                                                             Tes Formatif 2
1. C                 6. A                                                     1. A
2. D                 7. D                                                     2. B
3. C                 8. A                                                     3. C
4. A                 9. A                                                     4. C
5. B                 10. B                                                   5. C
DAFTAR PUSTAKA

-          Dasim, B (2002) Model Pembelajaran, dan Penilaian Portofolio,
-          Bandung: PT. GrasindoJarrol E Kemp, (1994) Proses Prencangan Pengajaran,
-          Bandung: ITBPressPaulson,F.Leon dkk (1991) Assesment of Student Achievment Sixth Edition.Boston : Allyn and BaconSomatowa,U. (2006) Bagaimana membelajarkan IPA di Sekolah Dasar,
-          Jakarta : Depdiknas, DIKTI, Direktorat Ketenagaan.Sutrisno, L Dkk (2007) Pengembangan Pembelajaran IPA SD,
-          Jakarta :Dirjen DIKTI DiknasStiggins, R.J (1994) Student Centered Classroom Assesment, New York :
-          Maxwell Mac millan InternasionalWidodo, A. Dkk (2008) Pendidikan IPA di SD, Bandung : UPI Press




TERIMA KASIH
mas template

0 komentar:

Post a Comment

terimakasih