Written by : Abeng Pangestu - Describe about you

Terima Kasih Telah berkunjung dan membaca tulisan kami, semoga ada manfaat buat teman - teman sekalian, jangan lupa apabila mencopy tulisan saya mohon kasih sumbernya,,, berbagi itu indah kawan, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian, dengan kalian memberikan koment tentunya penghargaan tertinggi buat saya sebagai penggiat...... "Tau dan Mengerti arti Hidup dan Kehidupan".

Join Me On: Facebook | Twitter | Google Plus :: Thank you for visiting ! ::

Home » » “Pengembangan Pembelajaran Ketrampilan membaca di SD”.

“Pengembangan Pembelajaran Ketrampilan membaca di SD”.

Written By abeng on Wednesday, May 23, 2012 | 2:29 PM

mas template

BAB I
PENDAHULUAN
I.              PENDAHULUAN
Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasan membaca sebagai suatu yang menyenangkan.

Suasana belajar harus dapat diciptakan melalui kegiatan permainan bahasa dalam pembelajaran membaca. Hal itu sesuai dengan karakteristik anak yang masih senang bermain. Permainan memiliki peran penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak.
Membaca merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Keempat aspek tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu (1) ketrampilan yang bersifat menerima (reseptif) yang meliputi ketrampilan membaca dan menyimak, (2) ketrampilan yang bersifat mengungkap (produktif) yang meliputi ketrampilan menulis dan berbicara (Muchlisoh, 1992: 119).
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Ketrampilan membaca sebagai salah satu ketrampilan berbahasa tulis yang bersifat reseptif perlu dimiliki siswa SD agar mampu berkomunikasi secara tertulis. oLeh karena itu, peranan pengajaran Bahasa Indonesia khususnya pengajaran membaca di SD menjadi sangat penting. Peran tersebut semakin penting bila dikaitkan dengan tuntutan pemilikan kemahirwacanaan dalam abad informasi (Joni, 1990). Pengajaran Bahasa Indonesia di SD yang bertumpu pada kemampuan dasar membaca dan menulis juga perlu diarahkan pada tercapainya kemahirwacanaan.
Ketrampilan membaca dan menulis, khususnya ketrampilan membaca harus segera dikuasai oleh para siswa di SD karena ketrampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di SD. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah sangat ditentukan oleh penguasaan kemampuan membaca mereka. Siswa yang tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai buku pelajaran, buku-buku bahan penunjang dan sumber-sumber belajar tertulis yang lain. Akibatnya, kemajuan belajarnya juga lamban jika dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak mengalami kesulitan dalam membaca.
Pembelajaran membaca di SD dilaksanakan sesuai dengan pembedaan atas kelas-kelas awal dan kelas-kelas tinggi. Pelajaran membaca dan menulis di kelas kelas awal disebut pelajaran membaca dan menulis permulaan, sedangkan di kelas-kelas tinggi disebut pelajaran membaca dan menulis lanjut. Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar dilakukan dalam dua tahap, yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat, sedangkan membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran.
Tujuan membaca permulaan di kelas I adalah agar “Siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat (Depdikbud, 1994/1995:4). Kelancaran dan ketepatan anak membaca pada tahap belajar membaca permulaan dipengaruhi oleh keaktifan dan kreativitas guru yang mengajar di kelas I. Dengan kata lain, guru memegang peranan yang strategis dalam meningkatkan ketrampilan membaca siswa. Peranan strategis tersebut menyangkut peran guru sebagai fasilitator, motivator, sumber belajar, dan organisator dalam proses pembelajaran. guru yang berkompetensi tinggi akan sanggup menyelenggarakan tugas untuk mencerdaskan bangsa, mengembangkan pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan membentuk ilmuwan dan tenaga ahli.





BAB II
PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN
I.              MEMBACA PERMULAAN
Pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut (Akhadiah, 1991/1992: 31). Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read).
Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan. Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan.




II.            PEMBELAJARAN MEMBACA MELALUI PERMAINAN BAHASA
Belajar konstruktivisme mengisyaratkan bahwa guru tidak memompakan pengetahuan ke dalam kepala pembelajar, melainkan pengetahuan diperoleh melalui suatu dialog yang ditandai oleh suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi. Ini berarti bahwa penekanan bukan pada kuantitas materi, melainkan pada upaya agar siswa mampu menggunakan otaknya secara efektif dan efisien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka, melainkan oleh keterlibatan emosi dan kemampuan kreatif. Dengan demikian proses belajar membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan siswa (Semiawan, 2002:5).
Dalam hal ini guru tidak hanya sekedar melaksanakan apa yang ada dalam kurikulum, melainkan harus dapat menginterpretasi dan mengembangakn kurikulum menjadi bentuk pembelajaran yang menarik. Pembelajaran dapat menarik apabila guru memiliki kreativitas dengan memasukkan aktivitas permainan ke dalam aktivitas belajar siswa. Penggunaan bentuk-bentuk permainan dalam pembelajaran akan memberi iklim yang menyenangkan dalam proses belajar, sehingga siswa akan belajar seolah-olah proses belajar siswa dilakukan tanpa adanya keterpaksaan, tetapi justru belajar dengan rasa keharmonisan. Selain itu, dengan bermain siswa dapat berbuat agak santai. Dengan cara santai tersebut, sel-sel otak siswa dapat berkembang akhirnya siswa dapat menyerap informasi, dan memperoleh kesan yang mendalam terhadap materi pelajaran. Materi pelajaran dapat disimpan terus dalam ingatan jangka panjang (Rubin, 1993 dalam Rofi’uddin, 2003).
Permainan dapat menjadi kekuatan yang memberikan konteks pembelajaran dan perkembangan masa kanak-kanak awal. Untuk itu perlu, diperhatikan struktur dan isi kurikulum sehingga guru dapat membangun kerangka pedagogig bagi permainan. Struktur kurikulum terdiri atas
1)    Perencanaan yang mencakup penetapan sasaran dan tujuan,
2)    Pengorganisasian, dengan mempertimbangkan ruang, sumber, waktu dan peran orang dewasa,
3)    Pelaksanaan, yang mencakup aktivitas dan perencanaan, pembelajaran yang diinginkan, dan
4)    Assesmen dan evaluasi yang meliputi alur umpan balik pada perencanaan (Wood, 1996:87).
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru dapat melakukan simulasi pembelajaran dengan menggunakan kartu berseri (flash card). Kartu-kartu berseri tersebut dapat berupa kartu bergambar. Kartu huruf, kartu kata, kartu kalimat. Dalam pembelajaran membaca permulaan guru dapat menggunakan strategi bermain dengan memanfaatkan kartu-kartu huruf. Kartu-kartu huruf tersebut digunakan sebagai media dalam permainan menemukan kata. Siswa diajak bermain dengan menyusun huruf-huruf menjadi sebuah kata yang berdasarkan teka-teki atau soal-soal yang dibuat oleh guru. Titik berat latihan menyusun huruf ini adalah ketrampilan mengeja suatu kata (Rose and Roe, 1990).
Dalam pembelajaran membaca teknis menurut Mackey (dalam Rofi’uddin, 2003:44) guru dapat menggunakan strategi permainan membaca, misalnya cocokkan kartu, ucapkan kata itu, temukan kata itu, kontes ucapan, temukan kalimat itu, baca dan berbuat dan sebagainya. Kartu-kartu kata maupun kalimat digunakan sebagai media dalam permainan kontes ucapan. Para siswa diajak bermain dengan mengucapkan atau melafalkan kata-kata yang tertulis pada kartu kata. Pelafalan kata-kata tersebut dapat diperluas dalam bentuk pelafalan kalimat bahasa Indonesia. Yang dipentingkan dalam latihan ini adalah melatih siswa mengucapkan bunyi-bunyi bahasa (vokal, konsonan, dialog, dan cluster) sesuai dengan daerah artikulasinya (Hidayat dkk, 1980).
Untuk memilih dan menentukan jenis permainan dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas, guru perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran dan kondisi siswa maupun sekolah. Dalam tujuan pembelajaran, guru dapat mengembangkan salah satu aspek kognitif, psikomotor atau sosial atau memadukan berbagai aspek tersebut. Guru juga perlu mempertimbangkan materi pembelajaran, karena bentuk permainan tertentu cocok untuk materi tertentu. Misalnya, untuk ketrampilan berbicara guru dapat menyediakan jenis permainan dua boneka, karena dengan permainan ini dapat mendorong siswa berani tampil secara ekspresif.

III.           PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN DI SEKOLAH DASAR
Pengembangan membaca  permulaan  dengan  model  pembelajaran  yang menyenangkan yaitu dengan menggunakan kartu huruf agar anak gemar membaca  karena  mempunyai  nilai  yang  stategis  bagi  pengembangan  kepribadian  dan  kemampuan  peserta  didik.  Pengembangan  kepribadian  dapat  ditanamkan  melalui  materi  teks  bacaan  yang  berisi  berbagai  pengetahuan  dan  pengalaman  baru  yang  pada akhirnya dapat berimplikasi pada kemampuan pengembangan peserta didik. Pembelajaran membaca  dilaksanakan  dalam  mata  pelajaran  Bahasa  Indonesia. Mata pelajaran ini diatur pelaksanaan menurut kurikulum, untuk itu, pembelajaran  membaca  yang  dikembangkan  di  SD  harus  berpatokan pada   kurikulum  mata  pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia yang  saat  ini  berlaku,  dijelaskan  bahwa pengembangan pembelajaran harus bertolak dari standar kompetensi,  kompetensi  dasar,  dan  indikator  belajar,  untuk itu pembelajaran membaca yang dikembangkan di SD harus bertolak dari standar kompetensi,  kompetensi  dasar  dan  indicator  belajar  yang  terdapat  dalam kurikulum  mata  pelajaran  Bahasa  Indonesia.  Standar  kompetensi, kompetensi dasar,  dan  indicator itu memiliki perbedaan  untuk  setiap jenjang  kelas  dan semesternya. Oleh karena  itu, pemilahan, pemilihan, dan penyusunannnya  perlu dilaksanakan (Diknas,2007).








BAB III
KESIMPULAN

Pada  hakikatnya,  aktivitas  membaca  terdiri  dari  dua  bagian,  yaitu membaca  sebagi  proses  dan  membaca  sebagai  produk.  Membaca sebagai  proses mengacu  pada  aktivitas  fisik  dan  mental.  Sedangkan  membaca  sebagai  produk mengacu pada konsekuensi dari aktivitas yang dilakukan pada saat membaca. Proses  membaca  sangat  kompleks  dan  rumit  karena  melibatkan  beberapa aktivitas,  baik  berupa  kegiatan  fisik  maupun  kegiatan  mental.  Proses  membaca terdiri  dari  beberapa  aspek.  Aspek-aspek  tersebut 
1)    Aspek  sensori,  yaitu kemampuan  untuk  memahami  simbol-simbol  tertulis, 
2)    Aspek  perceptual,  yaitu kemampuan  untuk  menginterprestasikan  apa  yang  dilihat  sebagai  simbol,
3)    Aspek  schemata,  yaitu  kemampuan  menghubungkan  informasi  tertulis  dengan struktur  pengetahuan  yang  telah  ada,
4)                Aspek  berfikir,  yaitu  kemampuan membuat inferensi dan evaluasi dari materi yang dipelajari, dan
5)    Aspek afektif, yaitu yang berkenaan dengan dengan minat pembaca yang berpenglaman terhadap kegiatan  membaca. 
Interaksi  antara  kelima  aspek  tersebut  secara  harmonis  akan menghasilkan  pemahaman  membaca  yang  baik,  yakni  terciptanya  komunikasi yang  baik antara penulis dengan pembaca. Membaca  merupakan  salah  satu  jenis  kemampuan  berbahasa  tulis  yang bersifat  reseptif,  disebut  reseptif  karena  dengan  membaca  seseorang  akan memperoleh  informasi,  memperoleh  ilmu  dan  pengetahuan  serta  pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh dari bacaan dan memungkinkan sesorang mampu mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandanannya dan memperluas wawasannya (Zuchdi dan Budiasih,1996/1997:49).  
Membaca  adalah  proses  aktif  dari  pikiran  yang  dilakukan  melalui  mata terhadap  bacaan.  Dalam  kegiatan  membaca,  pembaca  memproses  informasi  dari teks yang dibaca untuk memperoleh makna (Vacca,1991:172). Menurut  Bowman  (1993:  70-71) membaca  merupakan  sarana  yang  tepat untuk  mempromosikan  suatu  pembelajaran  sepanjang  hayat  (life-long  learning). Dengan  mengajarkan  kepada  anak  cara  membaca  berarti  memberi  anak  tersebut sebuah  sebuah  masa  depan  yaitu  memberi  suatu  teknik  bagaimana  cara mengeksplorasi  “dunia”  manapun  yang  dia  pilih  dan  memberikan  kesempatan untuk mendapatkan tujuan hidupnya.   
Membaca  merupakan  salah  satu  diantara  empat  keterampilan  berbahasa (menyimak,  berbicara,  membaca  dan  menulis)  Karena  membaca  tidak  hanya untuk  memperoleh  informasi,  tetapi  berfungsi  sabagai  alat  untuk  memperluas pengetahuan  bahasa  seseorang.  Dengan  demikian,  anak  sejak  awal  SD  perlu memperoleh latihan membaca dengan baik khususnya membaca permulaan .
Segala  macam  informasi  dan  perkembangan  zaman  dapat  diikuti  dari media  elektronik  (misalnya  TV),  ataupun  media  cetak  dengan  membaca.  Kedua macam  media  tersebut  mempunya  kelebihan  dan  kekurangan Media  elektonik dapat  lebih  santai  tinggal  menonton  tayangan  di  TV.  Kelemahannya,  tayangan tersebut tidak dapat ditonton ulang apabila kita membutuhkan informasi tersebut. Media  cetak  dengan  cara  membaca  mempunyai  kekurangan  dari  segi  pembaca yaitu  ketersediaan  waktu  yang  kurang  mencukupi  dalam  membaca,  kurangnya kemampuan  memahami  teks  bacaan,  rendahnya  motivasi  dalam  membaca, kurangnya kebiasaan dalam membaca dan lain sebagainya. Apabila dibandingkan dengan  media  elektronik  ,  kegiatan  membaca  mempunyai  kelebihan  yakni  teks bacaan  tersebut  dapat  dibaca  ulang  apabila  informasi  tersebut  sewaktu-waktu diperlukan
mas template

0 komentar:

Post a Comment

terimakasih